Tuesday, November 20, 2012

Panembahan Senapati - Superman dari Tanah Jawa

Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa (baca: Panembahan Senopati ing Alogo Sayidin Panotogomo Khalifatullah Tanah Jowo, arti: Panglima perang utama, penegak agama dan khalifah tanah Jawa) adalah pendiri kerajaan Mataram sekaligus raja pertama negeri itu yang bertahta dari tahun 1587 hingga tahun 1601. Nama kecilnya Danang Sutawijaya (baca: Danang Sutowijoyo), anak dari Ki Ageng Pamanahan (Mahesa Jenar) dan Nyai Sabeni. Danang adalah pendekar sakti yang sangat ulung sejak kecil. Dalam catatan sejarah, bahkan di usia belasan tahun, Danang mampu mengalahkan Harya Panangsang (baca: Haryo Panangsang), adipati Jipang Panolan yang terkenal super sakti dan temperamental, dalam sebuah pertarungan one-by-one di atas kuda. Kemenangannya atas Harya Panangsang tersebutlah yang mengukuhkan keabsahan Jaka Tingkir (baca: Joko Tingkir) menjadi pewaris tahta kerajaan Demak yang kemudian menghijrahkan pusat pemerintahannya ke Pajang (Yogyakarta).

Sejak masih Danang Sutawijaya hingga menjadi Panembahan Senapati, tokoh ini dipenuhi berbagai prestasi luar biasa dan sangat legendaris, baik dari sisi pribadi, politik maupun kemiliteran. Tak heran jika banyak dongeng maupun mitos heroik yang mengelukan sang Panembahan Senapati. Namun demikian, tulisan ini tidak membahas sejarah maupun karir politik Panembahan Senapati. Juga tidak membahas tentang dongeng maupun cerita rakyat yang berkaitan dengan Danang Sutawijaya.

Tulisan ini hanya sekedar menterjemahkan dan mentafsirkan pencitraan Panembahan Senapati yang dilukiskan dalam kidung Serat Wedhatama (baca: Wedhotomo) yang cuplikannya saya tulis disini, tidak kurang dan tidak lebih. Jika ada pergeseran arti atau makna, boleh jadi karena keterbatasan saya dalam memahami bahasa dan kesusateraan Jawa. Jika terjemahan dan penafsiran saya bisa dianggap benar pun, saya tidak bertanggungjawab akan kebenaran hakikinya, apakah sungguh seperti itu Panembahan Senapati, ataukah dilebih-lebihkan oleh yang menulis Wedhatama.


Teladan dalam mengejar kejayaan

Anak seorang prajurit bisa berhasil menjadi raja memang tidak mungkin diraih tanpa perjuangan berat yang patut diteladani. Perjuangan berat yang disertai dengan keprihatinan yang luar biasa dalam bahasa Jawa disebut tapa brata (baca: topo broto). Dalam Serat Wedhatama, Panembahan Senapati sering dialiaskan sebagai Wong Agung Ngeksiganda (baca: ngeksigondo) dan keteladanannya ditembangkan dalam sinom di bawah ini.

Dalam bahasa Jawa, huruf "a" kadang dibaca "a", kadang dibaca "ao" (a semi o). Untuk memudahkan pembaca, vokal "ao" kadang ditulis dengan "o", misalnya Sala ditulis Solo, Surabaya ditulis Suroboyo, Sudibya ditulis Sudibyo. Tetapi kalau dalam bentuk uraian, vokal "ao" tidak mungkin ditulis dengan "o", karena bisa bentrok dengan kata lain sangat beda artinya. Misalnya lara dan loro. Lara artinya sakit, sedangkan loro artinya dua. Jika lara ditulis loro, informasinya menjadi rusak. Oleh karena itu kidung sinom di bawah ini saya tulis apa adanya, namun disertai petunjuk cara membaca seperlunya.

Sinom
  1. Nuladha laku utama
    (baca: nuladho laku utomo)
    Tumraping wong tanah Jawi
    Wong agung ing Ngeksiganda
    (baca: wong agung ing ngeksigondo)
    Panembahan Senapati
    (baca: Panembahan Senopati)
    Kepati amarsudi
    Sudaning hawa lan nepsu
    (baca: sudaning howo lan nepsu)
    Pinesu tapa brata
    (baca: pinesu topo broto)
    Tanapi ing siang ratri
    Amamangun karyenak tyasing sasama
    (baca: amamangun karyonak tyasing sasomo)

  2. Samangsane pasamuwan
    Mamangun marta martani
    (baca: memangun marto martani)
    Sinambi ing saben mangsa
    (baca: sinambi ing saben mongso)
    Kala-kalaning ngasepi
    (baca: kolo kalaning ngasepi)
    Lelana teki-teki
    (baca: lelono teki teki)
    Nggayuh geyonganing kayun
    Kayungyun eninging tyas
    Sanityasa pinrihatin
    (baca: sanityaso pinrihatin)
    Pungguh panggah cegah dhahar lawan guling

  3. Saben mendra saking wisma
    (baca: saben mendro saking wismo)
    Lelana laladan sepi
    (baca: lelono laladan sepi)
    Ngisep sepuhing sopana
    (baca: ngisep sepuhing sopono)
    Mrih pana pranaweng kapti
    (baca: mrih pono pranaweng kati)
    Tis-tising tyas marsudi
    Mardawaning budya tulus
    Mesu reh kasudarman
    Neng tepining jalanidhi
    (baca: neng tepining jolonidhi)
    Sruning brata kataman wahyu dyatmika
    (baca: sruning broto kataman wahyu jatmiko)

Terjemah bebas
  1. Meneladani kisah keutamaan, bagi orang-orang di Tanah Jawa, (yaitu) orang besar dari Ngeksiganda (= Mataram) (yang bernama) Panembahan Senapati. Demikian khusuknya mengekang hawa napsu, melalui perjuangan berat (tapa brata) siang malam demi menggapai cita-cita mensejahterakan sesama (rakyat).
  2. Dalam setiap silaturahim, selalu berusaha berbagi pengalaman dan memberikan nasihat. Di kesempatan lain memanfaatkan saat-saat sepi untuk bertafakur merenungi cita-citanya. Bahkan saking khusuknya merenung, sampai lupa makan dan tidur.
  3. Setiap meninggalkan rumah, yang dicari tempat-tempat sepi, untuk memantapkan tafakurnya guna mencari cara bagaimana mencapai cita-cita. Yang diutamakan adalah akhlak mulia serta kecerdasan emosi. (Hal semacam itu sering dilakukan) di tepi samodera. Demikian sering dan khusuknya hingga akhirnya mendapatkan pencerahan (dari batinnya sendiri).
Tiga pupuh sinom di atas menggambarkan betapa Panembahan Senapati awalnya adalah pemuda gaul. Dalam pergaulan, dia pandai berbagi dan memberikan nasihat-nasihat yang bermanfaat. Tak heran sang pendekar ulung ini selain disegani juga melekat di hati masyarakat.

Di balik kelincahannya dalam pergaulan, Danang Sutawijaya juga penggemar tafakur. Cita-citanya adalah mendobrak keadaan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Mendobrak tidak mungkin cukup hanya berbagai dan memberikan nasihat. Mendobrak juga harus dengan kekuasaan. Namun dia tidak memiliki otoritas atas kekuatan militer saat itu, meskipun dia diangkat anak oleh sang raja Sultan Hadiwijaya. Danang harus menciptakan tentara sendiri. Sementara dia juga tidak memiliki harta yang cukup untuk menggaji pasukan. Sehingga cita-cita mendobrak keadaan sepertinya hanya sebuah khayalan pepesan kosong.

Namun Danang tidak mau cita-citanya buntu hanya sebatas khayalan. Oleh karena itu perjuangan fisik saja tidak cukup. Danang juga berjuang secara batin dengan cara bertafakur di tempat-tempat sepi. Paling sering di pantai Laut Kidul (Samodera Hindia). Tujuannya adalah mencapai pencerahan batin serta kekuatan iman. Dalam bertafakur Danang tidak peduli meskipun harus tidak makan dan tidak tidur berhari-hari.

Setahu saya, syari'at Islam tidak mengajarkan bertafakur di alam bebas meninggalkan makan dan tidur berhari-hari. Danang Sutawijaya adalah muslim, bahkan murid wali Sunan Kalijaga. Mestinya mengikuti syari'at. Namun beberapa tokoh muslim mengatakan bahwa syari'at Islam juga tidak melarang bertafakur di alam bebas meninggalkan makan dan tidur berhari-hari. Konon mengkaji kerohanian Islam guna mencapai pencerahan tingkat makrifat dan hakikat, justru memerlukan kekhusukan yang (ibarat komputer) uninterruptable. Rasa lapar dan kantuk adalah salah satu bentuk interupsi yang paling umum dan seseorang harus mampu mengekangnya jika ingin mencapai tingkat tersebut. Konon Danang Sutawijaya mampu mencapai tingkat itu dan mendapat pencerahan batin dari dalam dirinya sendiri.

Saya tidak tahu apakah paham semacam itu ada pakemnya dalam ajaran Islam, namun yang jelas, Rasulullah Kangjeng Nabi Muhammad pun pertama mendapatkan wahyu di gowa Hira juga dengan cara itu. Yang saya pahami adalah bahwa kemuliaan budi pekerti Nabi Muhammad sudah melekat dalam dirinya sejak sebelum menjadi rasul, hingga di kalangan suku Quraiys dijuluki Al Amin. Semua tindakannya yang dilakukan sebelum menjadi rasul tidak ada yang dinyatakan bertentangan dengan ajaran Islam yang dibawakannya setelah menjadi rasul.


Menaklukkan Ratu Kidul

Menurut mitos, di lautan sebelah Selatan pulau Jawa ada sebuah kerajaan jin yang disebut Laut Kidul. Yang bertahta disana adalah Kangjeng Ratu Kidul, seorang raja wanita yang sangat cantik, sakti dan bijaksana. Entah sekedar dongeng ataukah memang ada beneran, yang jelas mitos ini sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa maupun Sunda.

Dalam kelanjutan sinom Sekar Wedhatama dijelaskan bahwa Danang Sutawijaya berhasil menaklukkan sang Ratu Kidul. Berikut ini cuplikan 3 pupuh sinomnya.

Sinom
  1. Wikan wengkoning samodra
    Kederan wus den ideri
    Kinemat kamot ing driya
    (baca: kinemat kamot ing driyo)
    Rinegem sagegem dadi
    Dumadya angratoni
    (baca: dumadyo angratoni)
    Nenggih Kangjeng Ratu Kidul
    Ndedel nggayuh nggegana
    (baca: ndedel nggayuh nggegono)
    Umara marek maripih
    (baca: umoro marek maripih)
    Sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda
    (baca: sor prabowo lan wong agung ngeksigondo)

  2. Dhahat denira aminta
    (baca: dhahat deniro aminto)
    Sinupeket pangkat kanthi
    Jroning alam palimunan
    Ing pasaban saben sepi
    Sumanggem anyanggemi
    Ing karsa kang wus tinamtu
    (baca: ing karso kang wus tinamtu)
    Pamrihe mung aminta
    (baca: pamrihe mung aminto)
    Supangate teki-teki
    Nora ketang teken janggut suku jaja
    (baca: nora ketang teken janggut suku jojo)

  3. Prajanjine abipraya
    (baca: prajanjine abiproyo)
    Saturun-turune wuri
    Mangkono trahing awirya
    (baca: mangkono trahing awiryo)
    Yen amasah mesu budi
    Dumadya glis dumugi
    (baca: dumadyo glis dumugi)
    Iya ing sakarsanipun
    Wong Agung Ngeksiganda
    (baca: wong agung ngeksigondo)
    Nugrahane prapteng mangkin
    Trah tumerah darahe padha wibawa
    (baca: trah tumerah darahe podho wibowo)

Terjemah bebas:
  1. Mencermati batas luasnya samodera, (dengan) berkeliling tuntas. (Ibarat) digulung dan ditelan bulat, dipegang menjadi sekepalan tangan. Dialah sang penguasa (samodera itu), adalah Kangjeng Ratu Kidul, (yang) kala itu sedang terbang di angkasa. (Ternyata) hanya untuk mendekat menempel, (dan) menyatakan takluk kepada sang Panembahan Senapati.
  2. Begitu ngebet memohon, dengan pendekatan yang sangat santun, di dalam alam gaib, di setiap pertemuan yang sunyi. (Ratu Kidul) senantiasa bersedia, mengikuti apapun yang ditentukan (oleh Panembahan Senapati), demi mendapatkan hikmah dan pengaruh tafakurnya. (Demi itu semua) tak segan-segan (Ratu Kidul) meskipun harus merangkak ('ndlosor').
  3. Harapan yang diikrarkan (Panembahan Senapati), (adalah) untuk anak cucu cicitnya kelak, menjadi pemimpin. Ketika memiliki keinginan, segera terkabul, apapun maunya. Panembahan Senapati, pahalanya megalir terus, sehingga anak-turunnya semua menjadi penguasa.
Pupuh 1 di atas menggambarkan bahwa Kangjeng Ratu Kidul sedang terbang di angkasa mengelilingi wilayahnya, yaitu Laut Kidul. Sepertinya ada yang sedang dicari. Digambarkan bahwa Ratu Kidul sangat menguasai detil wilayahnya, sehingga diibaratkan Laut Kidul itu bisa ditelan bulat dalam dirinya, atau jika digenggam hanya sekepalan tangan. Hal itu menggambarkan, apapun yang ada di wilayah Laut Kidul pasti dapat ditemukannya.

Namun terbang kali itu yang dicari ternyata Sang Panembahan Senapati yang sedang tafakur di pantai. Ratu Kidul lantas mendekat menghormat dan menyatakan takluk (sor prabawa) kepada Panembahan Senapati.

Pupuh 2 menjelaskan bahwa selain takluk, Ratu Kidul juga memohon hikmah dari tafakur Sang Panembahan Senapati. Dan untuk itu Sang Ratu Kidul bersedia melakukan apapun yang diminta atau ditentukan oleh Panembahan Senapati. Demikian seterusnya, Sang Ratu Kidul selalu hadir menemuinya di alam gaib (palemunan) setiap kali Panembahan Senapati tafakur.

Dalam cerita pewayangan, jika ada orang bertapa, maka alam gaib (palemunan) disekitarnya menjadi panas dan menyebabkan para penghuninya resah tidak betah. Dalam ajaran Islam pun ada kemiripan. Di bulan suci Ramadhan, para jin dan setan terkekang karena umat muslim sedang berpuasa. Apakah pupuh ini menggambarkan maksud tersebut, walahualam, saya tidak tahu. Yang tahu tentu yang menulis Serat Wedhatama. Yang jelas, pupuh itu melukiskan betapa Ratu Kidul rela merangkak-rangkak (teken janggut suku jaja) memohon kepada Sang Panembahan Senapati. Soal detil permohonannya dan apakah Panembahan Senapati mengabulkan tidak dijelaskan dalam pupuh tersebut. Entah memang demikian atau keterbatasan saya dalam mencerna bahasanya.

Pupuh 3 sebenarnya menyambung subbab sebelumnya, yaitu tentang ambisinya mengejar kejayaan. Kaitannya di subbab ini karena menggambarkan dahsyatnya kekuatan bhatin hingga mampu menaklukkan Ratu Kidul. Disini dijelaskan bahwa yang menjadikan kekuatan bhatin Panembahan Senapati sangat dahsyat karena memuat ambisi jangka panjang yaitu berharap agar dirinya hingga keturunan-keturunannya kelak menjadi penguasa di Tanah Jawa.

Setiap orang boleh jadi memiliki harapan mendapatkan kemuliaan hingga anak cucu cicitnya. Tetapi umumnya hanya harapan santai saja. Berbeda dengan Panembahan Senapati yang disertai doa tafakur secara rutin di tempat-tempat sunyi agar penyampaiannya kepada Sang Maha Pencipta lebih fokus. Sementara, orang yang sedang berkonsentrasi secara ilmiah memang otaknya memancarkan berbagai gelombang memiliki kekuatan tertentu.

Terlepas apakah uraian dalam Serat Wedhatama merupakan dokumentasi yang bisa dipercaya atau sekedar karya seni, namun yang jelas sejarah mencatat bahwa Panembahan Senapati berhasil mendirikan kerajaan Mataram dengan cara memerdekakan Tanah Mentaok dan merebut kedaulatan Pajang dari tangan Sultan Hadiwijaya. Beliau menjadi raja pertama Mataram. Penggantinya selalu dari garis keturunannya. Hingga kini sisa Mataram yang masih diakui adalah Ngayogyakarta Hadiningrat alias DIY, dan penguasanya Sultan Hamengkubuwono X, juga dari garis keturunan Panembahan Senapati.